Toxic Parenting: Racun Penyebab Depresi

0
2753

jakartamedia.co.id – Apakah pernah mendengar kata Toxic Parents? Yaitu istilah untuk orang tua yang berperilaku buruk dengan melakukan kekerasan fisik atau verbal pada anak. Namun, juga berlaku bagi orang tua yang bertindak untuk ‘meracuni’ keadaan psikologis atau kesehatan mental anak. Seperti quotes yang ditulis oleh David Bly “Anak Anda akan menjadi seperti Anda; jadi bersikaplah sebagaimana Anda ingin mereka bersikap” terkesan jarang untuk diterapkan dikalangan orangtua di Indonesia. Banyak orang tua yang didik dengan cara kasar dan meneruskannya kepada anak mereka. Faktanya, beda anak, berarti beda sifat individualnya dan beda juga cara responnya. Lalu apa ciri-ciri dari toxic parents itu sendiri?

Ciri-Ciri dan Dampak Toxic Parents
Biasanya orang tua yang toxic egois dan kurang empati pada anak, reaktif secara emosional, suka mengontrol yang berlebihan, kurang menghargai usaha anak, menyalahkan dan kritik berlebihan pada anak, menuntut berlebihan, bercanda yang merendahkan anak, mengungkit apa yang telah dilakukan untuk anak. Semua ciri-ciri tersebut dapat berdampak pada kondisi psikis anak saat dewasa, biasanya akan kehilangan eprcaya diri, tidak dapat membuat keputusan, menjadi anak yang mudah marah, merasa tidak dicintai, sering menyalahkan diri sendiri, haus perhatian, merasa terkekang, dan yang lebih parah dapat mengalami depresi.

Pola Asuh di Indonesia
Parenting blogger Annisa Steviani, mengupas masalah Toxic Parents dan membagikan cerita dari followersnya yang menjadi korban dari Toxic Parents itu sendiri. Di Indonesia sendiri sudah melekat dengan budaya “orang tua selalu benar”, padahal orang tua juga manusia yang memiliki kekurangan, kelebihan, dan juga masih butuh belajar. Kasus korban toxic parenting yang ada di Indonesia ini banyak didapatkan dari pola asuh otoriter. Menurut Baumrid dalam Stiwart & Koch (1983:96), pola asuh otoriter merupakan pengasuhan yang dilakukan dengan cara memaksa, mengatur, dan bersifat keras. Orang tua menuntut anaknya agar mengikuti semua kemauan dan perintahnya berdampak pada konsekuensi hukuman atau sanksi.

Kasus Toxic Parents di Indonesia
Seperti yang terjadi pada salah satu korban dari toxic parenting yang telah menyadari bahwa ia telah diasuh oleh orang tua yang toxic, Ia merasa banyak dituntut dan dikontrol yang berlebihan, dibandingkan dengan adiknya. “Saya dituntut untuk masuk ke Universitas Negeri ternama di Jakarta, tetapi saat pengumuman SBM Saya diterima di Universitas Negeri ternama di Bandung. Saya sangat senang dan bersemangat untuk memberi tahu Ibu Saya dan pada saat itu Ibu saya berkata “Yah, kamu kok gak masuk UI?” dan di saat itulah Saya benar-benar nangis dan merasa sakit hati”. Ia juga mengaku pernah dilontarkan kalimat kasar dari Ibu nya hanya karena ia ingin menginap dirumah neneknya yang berasal dari keluarga Ayahnya yang sudah berpisah dengan Ibunya.

Dampak Toxic Parents Pada Kesehatan Mental Anak
Menurut sebuah penelitian yang dilakukan pada 1998, anak yang diasuh oleh orang tua ‘beracun’ cenderung memiliki gangguan dengan perasaan, yaitu sering merasa cemas. Orang tua ‘beracun’ juga bisa menyebabkan anak mengalami gangguan stres yang dipicu oleh trauma atau disebut Post Traumatic Stress Disorder (PTSD). Kondisi yang kemudian timbul, anak bisa sulit mengendalikan emosi, gangguan berpikir, hingga putus asa yang berkepanjangan

Memang tidak ada orang tua yang sempurna, tetapi tidak ada kata terlambat untuk menjadi orang tua yang baik karena peduli terhadap kesehatan mental anak.

 

Write : Ratu Devindha Nur Zahra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here