Paris De La Mode Fashion School Tampilkan Karya Muridnya di Fashion Show Indo Craft ke-17 di JCC Senayan

0
203

Paris de la Mode Fashion School mengikuti Fashion Show Indo Craft ke-17 yang diadakan oleh Debindo dengan tema “The Craftman of Indonesia”, bertempat di Cendrawasih Room Jakarta Convention Center (JCC) Senayan Jakarta. Sabtu (15/03/20).

Fashion Show tersebut telah diadakan dari tanggal 11 Maret 2020 lalu, serangkaian kegiatan sukses dilaksanakan. Dan hari ini Paris De La Mode Fashion School menampilkan beberapa hasil karya dari murid-muridnya.

Acara yang dipandu oleh Bella Fawzi sebagai MC, dimulai dengan peresmian Logo terbaru dari Indonesia Ethnic Designer Community (IEDC) yang sebelumnya bernama Komunitas Desainer Etnik Indonesia (KDEI) itu dihadiri oleh beberapa desainer ternama Indonesia. Setelah itupun ada pemberian Mo.De.S Award 2020 (Moslem Desainer Star) oleh Rizal Adiputra kepada para desainer IEDC.

Raizal Buyung Rais selaku Ketua dari IEDC pun mengatakan bahwa, pemberian Mo.De.S Award ini hanya diberikan kepada orang-orang tertentu saja pada tiap tahunnya. Karena memang bukan hanya busana Muslim yang diperlukan, tetapi juga busana yang sopan dilihat oleh semua orang.
“Tujuan diadakannya Mo.De.S Award ini juga untuk memajukan para designer muda, agar dapat lebih berkreasi dalam merancang sebuah karyanya masing-masing. Dan kita tekankan kepada desainer itu untuk menerapkan 50% Seni dan 50% Bisnis, tidak boleh lebih salahsatunya maka kita akan sukses”. Ungkapnya

Dalam Fashion Show tersebut pun diadakan pengundian hadiah berupa sebuah mesin jahit kepada 1 orang, yang diberikan oleh Paris De La Mode Fashion School.

5 murid Paris De La Mode yang menampilkan karyanya yaitu, Erra Kyra, Amalia Effendi, Leedy Diana, Jean Ong, dan Michelle. Mereka menampilkan rancangan busana yang berbeda-beda dari bahan maupun desainnya.

Amalia Effendi, Dengan Nuansa coklat dari desain tersebut menggambarkan tanah Indonesia yang subur, mutiara-mutiara menggambarkan kekayaan laut Indonesia, bunga-bunga menggambarkan keindahan alam Indonesia, kain batik menggambarkan nilai estetika seni Indonesia.
“Sehingga tema yang saya ambil adalah pelestarian budaya Indonesia, dengan tujuan mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk dapat bersama-sama melestarikan budaya Indonesia itu sendiri”. Ujarnya

Sementara itu Leedy Diana, menggunakan bahan kain polos sederhana untuk menunjukkan kesederhanaan, dikombinasikan dengan etnik lokal dan kain tenun canggih dari NTB. Kedua bahan tersebut terlihat sangat berbeda, namun berbaur dengan baik sebagai satu kesatuan.
“Saya menggunakan kain tenun dari NTB, karena itu kota kelahiran saya. Ingin menampilkan sesuatu yang baru, biasanya orang mengenal kain Songket dan Batik itu sebagai sesuatu yang tradisional. Saya mau mengangkat kain-kain seperti itu menjadi busana yang glamor, jadi jika kain-kain yang tradisional itu didesain dengan bagus akan menjadi sesuatu yang glamor.” Jelasnya. (Tini)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here