Eman Supriyadi: “Banjir di Bima Adalah Akibat Program Yang Salah Tempat”

0
2

jakartamedia.co.id | Bima – Banjir bandang yang melanda beberapa wilayah di Kabupaten dan Kota Bima pada Sabtu sore (03/04/2021) telah meluluhkan lantakkan infrastruktur jalan dan jembatan. Belum lagi kerugian masyarakat yang rumahnya hancur akibat terjangan banjir yang ganas.

Terkait hal ini, wartawan media ini melakukan wawancara khusus lewat telepon seluler dengan salah satu Pegiat Konservasi asal Bima, yang tinggal di Kota Palangka Raya Kalimantan Tengah. Pegiat Konservasi tersebut adalah Eman Supriyadi, Direktur Protect Our Borneo (POB) Central Kalimantan.

Saat diminta tanggapannya terkait banjir bandang di Bima, Eman Supriyadi yang akrab disapa Eman sangat menyayangkan kejadian tersebut. Eman juga ikut prihatin dan sedih dengan musibah yang melanda masyarakat Bima. Pria kelahiran Desa Tambe Kecamatan Bolo ini begitu marah dengan adanya penggundulan hutan di Bima.

“Saya ikut sedih dan prihatin dengan musibah banjir bandang yang melanda beberapa wilayah di Bima. Tetapi saya juga merasa marah sebenarnya melihat hutan dan gunung banyak yang digunduli.

Eman menekankan bahwa banjir yang terjadi sekarang dan sebelumnya adalah akibat program yang salah tempat. Ternyata Eman menyoroti terkait NTB sebagai lumbung jagung nasional.

“Anda kira banjir bandang itu serta Merta datang begitu saja? Banjir tadi sore itu terjadi akibat akumulasi kesalahan manusianya. Banjir yang terjadi di Bima adalah akibat program yang salah tempat. Mengapa NTB dipilih untuk menjadi lumbung jagung nasional, dengan menggunduli hutan dan gunung untuk menanam jagung. Ini program yang salah tempat. Seharusnya pemangku kepentingan berpikir dong.. Apakah dengan menggunduli hutan tidak akan membahayakan lingkungan dan merugikan masyarakat?? Menurut saya penyumbang terbesar banjir bandang tadi sore adalah akibat program jagung yang lahannya adalah hutan dan gunung yang digunduli.”

Eman Supriyadi, yang juga sebagai Ketua Himpunan Pewarta Indonesia (HPI) Kalimantan Tengah menceritakan pengalamannya waktu berada di Bima beberapa bulan yang lalu, terutama terkait banjir.

“Saya sekali lagi sangat sedih dan prihatin dengan masyarakat Bima yang harus menanggung akibat program tersebut. Saya yakin kalau kegiatan penanaman jagung ini terus berlanjut tanpa adanya reboisasi, maka masyarakat harus siaga untuk menghadapi banjir setiap curah hujan yang tinggi. Sewaktu saya di Bima pada Januari 2021, saya langsung melihat lokasi ke arah Donggo saat hujan deras. Air meluap dari parit sepanjang kiri-kanan lahan yang ditanami jagung. Baru tiga puluh menit hujan turun, air sudah meluap ke jalan dan sudah memasuki halaman rumah warga. Apakah pemerintah tidak memikirkan hal ini, tentu saja mereka sedang berpikir keras untuk menanggulangi hal ini. Apa bisa? Saya yakin tidak akan bisa kalau tidak ada tindakan nyata seperti reboisasi dan stop program penanaman jagung. Ganti dengan program lain yang bersahabat dengan lingkungan.”

Eman menambahkan, “Akibat banjir tersebut masyarakat sangat sengsara ditambah lagi hancurnya infrastruktur jalan dan jembatan seperti yang terjadi di Kecamatan Bolo dan Madapangga. Hal ini dipicu oleh meluapnya air dari tiga sungai yang membawa dampak paling parah. Itu yang saya lihat dari video-video kiriman rekan di group kami. Tiga sungai tersebut adalah Sori Lante, Sori Karombo, dan Sori Woro.”

Menutup pembicaraannya dengan media ini, Eman menyampaikan pesan agar pemerintah menghentikan saja program penanaman jagung di Bima, diganti dengan program lain seperti Pemeliharaan ikan dalam kolam dan karamba. Program penanaman sayuran yang dipadu serasikan dengan penanaman pohon keras di hutan yang gundul. Ini semua untuk mengantisipasi banjir di masa yang akan datang. (***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here